Kamis, 13 Desember 2012

praktukum kura-kura



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
1.      Posisi Geografis dan Astronomis
1.      Letak Koordinat : 00°49’04.0°, LU. 108°50’37,9” BT  
2.      Suhu udara : 27° C  
3.      Suhu tanah : 29° C  
4.      Keasaman tanah (pH) : 6,9
Untuk mencapai lokasi wilayah itu, dari Pontianak harus menempuh sekitar 110 km selama 3 jam untuk sampai ke tanjung gundul. Bila dari singkawang perjalanan ketanjung gundul bisa mencapai 20 menit karena jaraknya 15 km setelah sampai keareal tanjung gundul, kita harus meneruskan perjalanan sekitar 3 km untuk mencapai pantai kura – kura yang berada di balik bukit kecil di bibir pantai. 
                                          
2.      Batas Wilayah
1.   Nama tempat : Pantai kura – kura
2.Letak Administrasi : Desa Tanjung Gondol Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Bengkayang.
Kecamatan Sungai Raya sebelah Utara berbatasan dengan Sedau dan untuk sebelah Selatan berbatasan dengan Pakmakmur. Sebelah Timur berbatasan dengan Menteradok dan Paritmas sedangkan Sebelah Barat berbatasan dengan Laut Natuna.
Kabupaten Bengkayang sebelah Utara berbatasan langsung dengan negara Malaysia atau tepatnya berbatasan dengan Serawak-Malaysia Timur. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Pontianak. Sebelah Timur berbatasab dengan Kabupaten Landak dan kabupaten Sanggau. Sebelah Barat berbatasan dengan kota Singkawang, Kabupaten Sambas, dan laut Natuna.






3.      Nilai Ekonomis Wilayah
                        Bengkayang memiliki tanah yang subur dengan kontur yang beragam, sektor pertanian memegang peranan penting dalam perekonomian daerah ini. Apalagi dengan relief yang beragam, dari pegunungan hingga daerah pesisir pantai, menjadikan Bengkayang kaya akan keanekaragaman sumber daya alam. Pembangunan di wilayah ini masih tertinggal, namun dengan adanya semangat otonomi daerah diharapkan dapat memacu pembangunan Bengkayang menjadi lebih maju di segala bidang. Salah satu hasilnya adalah berhasilnya pembangunan gedung Kantor Bupati satu atap, dimana dalam satu gedung tersebut terpusat seluruh badan dan dinas yang ada di lingkungan pemerintahan daerah. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan pelayanan terhadap publik. Selain itu proyek pengadaan air bersih juga telah selesai direvitalisasi.
                        Di daerah sekitar pantai, kebanyakan masyarakat sektor perekonomiannya pada bidang nelayan, lautnya kaya akan keanekaragaman laut yang cukup menghasilkan. Dan tempatnya juga sangat bgus untuk dijadikan objek wisata.
B.     Analisis Masalah
Analisis masalah dalam laporan praktikum ini adalah:
1.      Permasalahan dari peraktikum ini adalah bagaimana mengetahui dan memahami terminology topografi pantai.
2.       mampu melaksanakan metode standart analisis topografi pantai,.
3.      bagaimana factor-faktor fisika.
4.       geologi-oseanografi yang berpengaruh terhadap pembentukan topografi pantai.
C.    Pembagian Tugas
1.      Silpanus Desember            : Membuat cover dan mencari materi latar belakang .
2.      Herman Fernando             : Mencari bahan II tentang Aspek hidrologi, bab III tentang kondisi hidrologi dan membuat kesimpulan dan saran
3.      Beri Gunawan                   : Mengerjakan dari mulai menyusaun kerangka, memasukan materi dari bab I samapi bab IV, mencari materi bab II tentang klasifikasi bentang alam dan aspek geologi, bab III kondisi pantai kura – kura dan kondisi geomorfologi pantai kura – kura.
4.      Kristina                 : Membuat kata pengantar, mencari materi bab II tentang aspek geomorfologi.

D.    Tujuan
Praktek ini bertujuan untuk memahami tentang profil pantai suatu wilayah pesisir di kawasan bengkayang pantai kura-kura, serta memahami terminologi topografi pantai, mengetahui dan mampu melaksanakan metode standar analisis topografi pantai, mengetahui dan mampu menjelaskan faktor-faktor fisika, geologi-oseanografi yang berpengaruh terhadap pembentukan topografi pantai. Tepatnya di pantai kenjeran.


















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.     Klafikasi Tentang Bentang Alam

Pada dasarnya, bentuk-bentuk muka bumi itu terbagi menjadi beberapa proses yaitu:
1.    Diastrofisme
                        Adalah proses pergerakan lempeng mukabumi yang satu terhadap yanglainnya, mengakibatkan adanya berbagai bentuk di permukaan bumi.
            Bentuk- bentuk tersebut adalah:
A.           Sesar Biasanya terjadi pada batuan beku atau batuan lainnya seperti batuanmetamorfosa. Bagian patahan yang rendah disebut palung (graben).Bagian yang terangkat istilahnya horst.

http://geoce-ria.netau.net/GMBR/Gambar%202.jpg

B.     SesarKekar Kekar adalah retakan pada batuan yang dibentuk oleh tekanan yangdihasilkan oleh kejadian-kejadian tektonik, pendinginan, atau pantulanisostasi. Panjangnya bervariasi mulai dari milimeter hingga kilometer.Padasingkapan batuan kekar dapat berupa retakankecil seukuran rambutyang panjangnya hanya beberapa millimeter atau rekahan terbukasepanjang satu meter atau lebih. Kekar dapat terisi atau bisa juga tidak terisi, bila terisi biasanya diisi oleh tanah atau tanah liat. Merekadibedakan dari sesar melaluisedikitnya pergerakan antara dua sisi kekar.
2.  Lipatan – lipatan
                        Lipatan Lipatan adalah struktur yang tadinya datar namun telah dibengkokkan olehgaya-gaya horizontal dan vertikal pada kerak bumi. Lipatan dapat dihasilkan dari berbagai proses:kompresi kerak bumi,pengangkatan balok di bawah selimut yang terdiri dari batuan sedimen sehingga selimuttersebut tersampir di atas balok yang terangkat, dan luncuran gravitasional serta pelipatan di mana batuan berlapis meluncur ke bawah sisi-sisi balok yang terangkat lalu remuk.
Bentang alam lipatan adalah:
1)      Antiklin
2)      Sinklin
3)      Monoklin
4)      Asymmetric fold 
5)      Recumbent fold 

Gambar2Sumber: Encyclopedia of Geomorphology  Penampang melintang bentang alam lipatan


3.      Agradasi
      Agradasi, ataupengendapan yang dilakukan oleh agen-agen pengerosiseperti angin, air, dan es.Oleh karena di wilayah Indonesia agradasiaktif dilakukan oleh air dan khususnyadi wilayah Nabire, tidak terjadi agradasi selain yang dilakukan air, maka hanya akan dipaparkan mengenai agradasiyang dilakukan oleh air.Agradasi oleh air terjadi apabila daya angkutnya menurun. Penurunan daya angkut air diakibatkan oleh menurunnya volume air atau menurunnyagradien lereng. Endapan pada belokan dalam sungai-Sungai selalu mengikis tepi luar belokannya sedangkan tepi dalam belokanmengalami pengendapan.Karenanya, tepi dalam belokan makin lamamakin dangkal dan tanahnya meluas sementara tepi luar belokan sungaitergusur oleh air.Tanah yang mengendap itu bukan berasal dari pengikisanyang terjadi di seberang.

Bentang alam yang ada di pantai kura – kura, Pantai kura-kura yaitu sebuah pantai yang terletak di kabupaten bengkayang, yang berbatasan langsung dengan kota        singkawang pantai  ini terdapat di daerah tanjung gundul, mengapa disebut tanjung gundul? Karena dulunya tanjunng ini dipenuhi dengan pepohonan akan tetapi yang          tersisa saat ini hanyalah sebuah tanjung tanpa pepohonan yang menghiasinya, kalau dapun itu hanyalah rerumputan dan semak saja. Pantai  kura-kura juga dekat dengan tempat pelatihan militer Secata B waktu tempuh yang diperlukan untuk mencapai lokasi wisata ini ± 45 menit perjalanan dari kota singkawang.

                         Mungkin tak banyak orang yang mengetahui lokasi wisata ini, hal ini terjadi karena sedikit informasi tentang lokasi wisata ini dan juga akses menuju lokasi wisata ini yang belum diakomodir dengan baik, dimana banyak terdapat jalan yang berlubag dan digenangi air serta kurangnya fasilitas di lokasi wisata ini, fasilitas yang tersedia yang tersedia di lokasi wisata ini hanya sebatas fasilitas standar untuk sebuah lokasi wisata. Seperti saung untuk bersantai, warung makan, toilet, dan beberapa vila yang merupakan milik dari sebuah PT (perseroan terbatas) di tempat ini juga terdapat sebuah tempat pembudidayaan udang yang dikelola oleh pihak yang kompeten dibidangnya.


Pemandangan lokasi wisata ini cukup indah, dimana pantai ini masih cukup asri ditambah dengan adanya pepohonan pinus yang ditanam oleh pengelola di sepanjang tepian pantai semakin menambah keindahan pantai ini, Untuk mencapai lokasi wisata itu, dari Pontianak harus menempuh jalan sekitar 110 km selama 3 jam untuk sampai ke Tanjung Gundul. Bila dari Singkawang perjalanan ke Tanjung Gundul bisa mencapai 20 menit karena jaraknya sekitar 15 km. Setelah sampai ke areal Tanjung Gundul, kita harus meneruskan perjalan sekitar 3 km untuk dapat mencapai pantai Kura Kura yang berada di balik bukit kecil di bibir pantai.
A.    Aspek Geologi
Kondisi Geologi Daerah pantai Beserta Pembentukannya

               Kondisi geologi daerah pantai kura – kura sebuah bukit yang ada di pantai ini, dari bukit ini kita dapat melihat pemandangan yang lebih indah dimana pantai akan terlihat sangat berbeda di dekat bebatuannya,  jika cuaca sedang bagus, kita bisa melihat sebuah pulau yang terdapat di seberang pantai, dan pada sore harinya kita dapat melihat sunset pula.
   Mempertahankan kondisi alam yang asli bisa menjadi konsep pengembangan objek wisata di Kalbar. Pantai Kura Kura dikelola memperhatikan konsep tersebut. Lingkungan pantai dipertahankan keasriannya sehingga turis asing pun tertarik menikmati keindahan alam.


   Indonesia bagian barat seperti Kalimantan, Sumatera dan Jawa Barat serta Jawa Tengah tersusun oleh kerak benua, demikian pula dasar lautan di antara pulau-pulau ini yang dangkal. Di bawah kerak bumi adalah zona yang batuannya lebih panas dan bersifat lebih plastis. Lempeng benua dan lempeng samudera mengapung di atas bahan cair di bawahnya.
Di Kalimantan terdapat empat unit geologi utama, yaitu batuan yang dihubungkan dengan pinggir lempeng, batuan dasar, batuan muda yang mengeras dan tidak mengeras, dan batuan aluvial serta endapan muda yang dangkal.
Pantai kura - kura merupakan bagian laut cina selatan, pulau Kalimantan, sumatera dan jawa merupakan satu daratan kesatuan, pada akhir jaman pleistosen karena perubahan iklim atau suatu bencana yang sangat besar, sehingga menyebabkan es mencair setebal 150 m – 200 m, akibatnya tempat – tempat yang rendah bagian utara jawa, barat kalimantan, dan timur sumatera itu terisi oleh air yang kemudian saat ini kita kenal dengan sebutan laut cina selatan.
Proses Pembentukan Pantai
1.                  Material Batuan
                        Batuan mencakup material yang membentuk litosfir atau kerak bumi, terdiri dari mineral-mineral pembentuk bantuan. Mempelajari batuan merupakan pengetahuan dasar untuk mempelajari geologi. Dengan mempelajari batuan dapat kita ketahui sifat dan sejarah bumi kita. Kita jumpai disekeliling kita berbagai macam batuan. Dilihat dari sifat fisiknya mereka sangat beragam, baik warna, kekerasan, kekompakkan, maupun material pembentuknya.
            Berdasarkan proses kejadiannya batuan dibagi menjadi tiga jenis antara lain:
a.      Batuan beku
                        Batuan beku adalah batuan yang terjadi dari pembekuan larutan silika cair dan pijar, yang dikenal dengan nama magma. Ciri-cirinya mempunyai berat jenis yang tinggi, pejal, dan hampir tidak memiliki rongga. Mineral yang terkandung di dalamnya dalah oksigen (O2), Alumunium (Al), Kalsium (Ca), Natrium (Na), Kalium (K), Besi (Fe), dan Magnesium (Mg). Dari mineral yang terkandung di dalamnya batuan beku secara umum dapat dibedakan menjadi dua yaitu magma basa dan magma asam.
b.      Batuan Sedimen
      Batuan sedimen pada umumnya berupa butiran-butiran tersendiri mulai dari sangat halus hingga sangat kasar, memiliki berat jenis rendah dibandingkan batuan beku, memiliki rongga dan pori-pori. Batuan sediment terbentuk karena proses sedimentasi dari bahn-bahan rombakan yang dibawa oleh media air ataupun angin yang diendapkan/disedimentasikan di suatu tempat yang disebut cekungan muka. Material tersebut dibagi atas dua macam yaitu bahan organic dan non-organik., Berdasarkan susunan dan cara pembentukannya (sukar untuk dipisahkan), batuan sediment dibagi lagi menjadi:
1.      Sedimen silika klastik, misalnya batu pasir (kuarsa) biasa, lempung, wake abu-abu (gay woce), dan sebagainya.
2.      Batuan karbonat, misalnya batu kapur (karts) dari berbagai sifat: kapur karang, batuan kalsiklastik (terdiri dari pasir kapur), napal, dolomit dan sebagainya.
3.      Evaporit, yaitu batuan hasil penguapan: garam batu, anhidrit, gips, garam kali, dan sebagainya.
4.      Sedimen organik, misalnya dari zat-zat hidup, gambut, arang coklat, arang batu, minyak bumi, aspal.
5.      Sedimen piroklastik atau sediment vulkanik misalnya debu vulkanik, tuf, dan sebagainya
6.      Sedimen lainnya, misalnya fosforit dan sebagainya
                 Penamaan batuan sedimen biasanya berdasarkan besar butir penyusun batuan tersebut Penamaan tersebut adalah: breksi, konglomerat, batu pasir, batu lempung:
a.    Breksi adalah batuan sedimen dengan ukuran butir lebih besar dari 2 mm dengan bentuk butiran yang bersudut
b.   Konglomerat adalah batuan sedimen dengan ukuran butir lebih besar dari 2   mm dengan bentuk butiran yang membudar
c.    Batu pasir adalah batuan sedimen dengan ukuran butir antara 2 mm sampai 1/16 mm
d.   Batu lanau adalah batuan sedimen dengan ukuran butir antara 1/16 mm sampai 1/256 mm
e.    Batu lempung adalah batuan sedimen dengan ukuran butir lebih kecil dari 1/256 mm ]

c.       Batuan Metamorf
      Batuan metamorf terbentuk dari proses metamorfisme yaitu perubahan mineral ke mineral lainnya tanpa mengalami fase cair akibat tekanan dan suhu yang sangat tinggi. Ciri-cirinya yaitu mempunyai mineral yang pipih, berlembar pejal dan bergantung pada batuan asalnya.. Berdasarkan cara pembentukkannya, kita dapat mengenal tipe-tipe metamorfosisnya yaitu;
1.   Metamorfosis kontak, yang terjadi pada kontak sebuah intrusi magma,
2.    Metamorfosis dinamo, yang terjadi pada deformasi lokal yang intensif, dimulai dengan breksi patahan, kemudian melonit.
3.   Metamorfosis regional, yang terjadi pada daerah-daerah yang lebih luas dibandingkan tipe sebelumnya dan berkaitan erat dengan orogenesis dan deformasi.
Beberapa mineral utama pembentuk batuan metamorf yang umum kita jumpai adalah kwarsa, feldspar, ampibol, piroksen, mika, garnet, dan chlorit.Mineral-mineral tertentu terbentuk tergantung dari tekanan dan temperature ketika berlangsungnya metamorfosis. Adapun contoh batuan metamorf antara lain: sabak, phylit, skis, gnesis, migmatit, batuan horn.
2.      Patahan pada Masa Batuan
Pada umumnya sebuah patahan akan terjadi bila gaya geser maksimum telah dilampaui. Adapun bentuk-bentuk patahan sebagai berikut:
a)      Patahan yang bergeser turun (”normal fault”): bidang patahan melereng ke sisi bongkah yang turun; dibarengi dengan pemanjangan, seringkali berkaitan dengan renggangan di kedalaman.
b)      Geseran ke atas (“reverse fault”) bidang patahan melereng ke sissi bongkah yang naik; lapisan-lapisan bergeser satu di atas lainnya; penggandaan, biasanya disebabkan oleh tekanan lateral.
c)      Geseran saling melintas  (“over thrust”) pada umumnya sama dengan geseran ke atas, biasanya kemiringannya lebih kecil dan jumlah geserannya lebih besar. Seringkali berkaitan dengan penglipatan.
d)     Patahan transversal (“trans current fault”, wrench fault”) adakalanya,  tetapi bukan merupakan suatu ketentuan, bidang patahan berdiri vertikal. Bongkah-bongkah saling geser secara horizontal dan transversal.
e)      Fleksur: pembengkokan lapisan-lapisan di sela-sela bongkah yang naik dan bongkah yang turun, seringkali beralih menjadi patahan.
3.      Pelapukan
Kehidupan sehari-hari memperlihatkan bahwa di bumi ini tidak ada material yang bersifat abadi. Segala sesuatu akan berubah, baik secara fisik maupun secara kimia. Terutama yang berada di lingkungan atmosfer. Perubahan ini berlangsung untuk mencapai keseimbangan alamiah. Di alam, proses inipun berlangsung tanpa kita sadari. Di dalam geologi pengubahan alam ini dinamakan proses pelapukan atau weathering yang berarti cuaca. Jadi pelapukan diartikan sebagai perubahan akibat cuaca. Hasil proses pelapukan ini berupa pecahan-pecahan batuan lepas yang menutupi permukaan bumi secara tidak teratur dinamakan regolith.
Proses pelapukan inilah salah satu proses yang mengubah permukaan bumi setiap saat meskipun perubahannya tidak tampak dengan segera karena faktor waktu sangat berpengaruh dalam proses ini.
a.      Pelapukan Mekanik (mechanical weathering)
Pelapukan secara fisika umumnya disebut pelapukan fisika (physical weathering) atau pelapukan mekanik. Pada proses pelapukan ini hanya berlangsung perubahan fisik saja, secara mekanik tidak disertai perubahan kimia. Sehingga komposisi kimianya tetap, yang berubah hanya sifat fisiknya saja. Dari yang semula mempunyai bentuk dan volume besar serta massif, hancur menjadi bentuk lebih kecil. Pelapukan fisik atau pelapukan mekanis dapat terjadi oleh:
1)   Udara yang membeku, dimana pengembangan 9% dari dalam retakan yang sangat kecil dapat mengakibatkan penghancuran
2)   Insolasi dan perubahan temperatur, yang akan menyebabkan antara lain eksfoliasi oleh penyusutan dan pengembangan
3)   Akar tumbuhan, cacing dan binatang-binatang lain, kerak lumut, yang dapat meningkatkan kemunculan dan pembesaran retakan-retakan yang sangat kecil.
b.   Pelapukan Kimiawi
Mineral-mineral dalam batuan beku dan metamorf terbentuk pada kondisi suhu dan tekanan tinggi. Bila sampai di permukaan bumi, baik suhu maupun tekanannya jauh lebih rendah dari kondisi saat pembentukan.    Untuk mencapai keseimbangan, mineral-mineral tersebut terurai dan komponen-komponennya membentuk mineral baru yang lebih stabil. Dalam pelapukan kimia terjadi perubahan komposisi kimia mineral yang terlapukkan, sehingga dapat dikatakan proses dekomposisi.
Faktor-faktor utama yang dapat menyebabkan terjadinya pelapukan kimiawi adalah air hujan dan air tanah.
1)   Air hujan dapat mencemari mineral-mineral batuan: dan yang dilarutkan dengan berbagai jenis asam lain, yang berasal dari lumut. Selain itu, dapat dipisahkan menjadi dan; pH = 7 sampai 4. Kadar asam terutama ditentukan oleh + = +. Perubahan kimiawi yang dapat terjadi adalah: pelarutan, oksidasi, hidrasi, pembentukan karbonat.
a.    Pelarutan : sebagian besar silikat akan melarut pada pH yang cukup rendah, dalam hal mana residu yang tidak dapat larut akan tertinggal ( misalnya mineral lempung). Kohesi batuan akan berkurang.
b.    Pembentukan karbonat: akibat adanya akan terbentuk sejumlah besar bikarbonat, antara lain  juga akibat adanya dan tentu saja juga yang akan hilang dalam larutan. Bahkan batu kapur akan larut seluruhnya sebagai, sedangkan di tempat lain dapat memberikan jatuhan (sinter kapur, stalaktit).
c.    Oksidasi : senyawa besi yang dapat larut akan beroksidasi menjadi hidroksid besi yang tidak dapat larut, misalnya limonit. Oksidasi dapat mengakibatkan lapukan menjadi berwarna coklat – karat, merah tanah, dan sebagainya.
d.   Hidrasi atau hidrolisis : mineral-mineral asal menjadi lepas karena menyerap air (seringkali pada pada kadar rendah). Contohnya feldspar berubah menjadi mineral lempung. Mineral-mineral lempung ini merupakan bagian kecil dari koloid yang berkristalisasi lebih lanjut. Piroksen dan amfibol menghasilkan mineral klorit dan karbonat dan yang dapat larut.
2)   Air tanah akan naik secara kapiler dalam hawa gurun pasir dan kemudian menguap, serta meninggalkan berbagai garam, antara lain garam yang agresif (soda). Sementara garam hygroskopis akan memuai oleh embun di malam hari sehingga dapat memecahkan batuan. Proses ini berlangsung lebih efektif bila dibandingkan dengan insolasi.

c.       Pelapukan Biologi
Pelapukan biologi yaitu pelapukan yang terjadi akibat adanya aktivitas makhluk hidup. Faktor – faktor yang menyebabkan terjadinya pelapukan biologi yaitu:
a)      Adanya akar-akar tanaman yang masuk ke retakan.
b)      Adanya binatang seperti serangga yang masuk ke tanah dapat mendorong fragmen-fragmen batuan ke atas.
Ciri-ciri terdapatnya pelapukan:
1.      Adanya retakan.
2.      Terjadi perubahan warna.
3.      Terdapat peleburan retakan.


4.      Bukaan pada Bidang Patahan (Aperture)
Aperture adalah bukaan yang terdapat pada massa batuan yang merupakan salah satu karakteristik bidang ketidakselarasan (discontinuity) yang mengindikasikan besarnya intensitas pelapukan(priest,1993). Bukaan yang terdapat pada lereng batuan memiliki ukuran yang berbeda-beda yang bergantung pada derajat pelapukannya.Batuan yang terdapat pada dinding tersebut memiliki ukuran yang berbeda-beda tergantung pada derajat pelapukan dari batuan itu sendiri.
Aperture dapat diukur dengan menggunakan jangka sorong. Dimana semakin besar bukaan pada dinding discontinuity maka pelapukan semakin tinggi. Data-data dari hasil pengukuran aperture disusun secara teratur mulai dari nilai terkecil hingga nilai terbesar.







5.      Kekasaran Bidang Permukaan (Roughness)
                        Tingkat kekasaran bidang merupakan parameter yang menggambarkan        beberapa jauh tingkat alterasi pada bidang ketidakselarasan(Priest, 1993). Analisa yang dilakukan adalah analisa secara visual, yaitu sampel yang telah           terpisah, bidang permukaannya diplotkan sebagai dua dimensi yang kemudian        dikolerasikan dengan parameter
6.      Material Pengisi (Filling)
Beberapa material pengisi pada bukaan bidang ketidakselarasan mengindikasikan adanya pengaruh pelapukan pada massa batuan. Diantara material filling yang dihasilkan oleh adanya proses pelapukan pada bukaan adalah tanah. Tanah terbentuk melalui proses kimia yang terjadi antara air yang mengandung asam atau  basa dengan unsur kimia penyusun material batuan.
B.     Aspek Geomorfologi (unit – unit medan yang di amati baik dari dalam maupun dari luar)
1.      Morfologi Pantai
Secara sederhana, pantai dapat diklasifikasikan berdasarkan material penyusunnya, yaitu menjadi:
1)      Pantai Batu (rocky shore), yaitu pantai yang tersusun oleh batuan induk yang keras seperti batuan beku atau sedimen yang keras.
2)      Beach, yaitu pantai yang tersusun oleh material lepas. Pantai tipe ini dapat dibedakan menjadi:
a)      Sandy beach (pantai pasir), yaitu bila pantai tersusun oleh endapan pasir.
b)      Gravely beach (pantai gravel, pantai berbatu), yaitu bila pantai tersusun oleh gravel atau batuan lepas. Seperti pantai kerakal.
1)      Pantai bervegetasi, yaitu pantai yang ditumbuhi oleh vegetasi pantai.  Di daerah tropis, vegetasi pantai yang dijumpai tumbuh di sepanjang garis pantai adalah mangrove, sehingga dapat disebut Pantai Mangrove.



Maka pantai dapat dibedakan menjadi:
1)      Pantai hasil proses erosi, yaitu pantai yang terbentuk terutama melalui proses erosi yang bekerja di pantai. Termasuk dalam kategori ini adalah pantai batu (rocky shore).
2)      Pantai hasil proses sedimentasi, yaitu pantai yang terbentuk terutama kerena prose sedimentasi yang bekerja di pantai. Termasuk kategori ini adalah beach. Baik sandy beach maupun gravely beach.
3)      Pantai hasil aktifitas organisme, yaitu pantai yang terbentuk karena aktifitas organisme tumbuhan yang tumbuh di pantai. Termasuk kategori ini adalah pantai mangrove.

2.      Geomorfologi Perbukitan
a.      Pelapukan
Adalah proses perusakan dan penghancuran massa batuan yang disebabkan oleh pengaruh-pengaruh cuaca, angin, dan organisme. Berdasarkan proses terjadinya, pelapukan dibagi tiga:
1)      Pelapukan Mekanik adalah proses penghancuran batuan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil tanpa mengubah susunan kimia batuan. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pelapukan mekanik antara lain: Perbedaan suhu yang sangat besar antara siang dan malam. Kondisi ini umumnya terjadi di gurun. Suhu di siang hari umumnya sangat panas, malam hari sangat dingin. Menyebabkan batuan memuai dan mengerut sangat tidak beraturan dan cepat sehingga batuan pecah.
2)      Pembekuan air dalam celah-celah batuan. Air dalam keadaan cair akan meningkat volumenya ketika dalam bentuk es. Maka, air yang membeku dalam celah batuan dapat menekan batuan sehingga pecah.
3)      Mengkristalnya air garam.
Pelapukan kimiawi adalah proses penghancuran massa batuan disertai perubahan struktur kimia batuan. Umumnya terjadi karena pelarutan. Air hujan mengandung CO2 dan asam amoniak sangat besar daya larutnya. Selain itu, suhu udara tinggi dan curah hujan yang besar dapat mempercepat proses pelapukannya. Pelapukan ini umum ditemukan di daerah kapur.
b.      Erosi
Erosi atau pengikisan adalah proses pelepasan partikel batuan secara alamiah oleh tenaga pengangkut yang ada di permukaan bumi, antara lain angin dan air. Erosi menurut penyebabnya dapat dibagi atas empat macam:
1)      Erosi Aliran Permukaan terjadi apabila intensitas dan lamanya hujan melebihi kapasitas infiltrasi.
2)      Erosi Angin disebabkan oleh angin, yang disebut juga deflasi atau ablasi. Erosi ini banyak terjadi di daerah gurun.
c.       Mass Wasting
Mass Wasting adalah perpindahan massa batuan/tanah akibat pengaruh gaya berat. Prosesnya mirip dengan terjadinya erosi. Bentuk-bentuk mass wasting antara lain sebagai berikut:
1)      Tanah longsor (land slide)
2)      Tanah amblas atau ambruk (subsidence)
3)      Tanah nendat (slumping), yaitu proses longsoran tanah yang gerakannya terputus-putus, sehingga memperlihatkan bentuk mirip teras.
4)      Tanah mengalir (earth flow), yaitu gerakan tanah yang jenuh air pada lereng-lereng landai.
5)      Lumpur mengalir (mud flow), yaitu sejenis tanah mengalir dengan kadar air tinggi.
6)      Rayapan tanah (soil creep), yaitu gerakan tanah yang sangat lambat pada lereng landai.
d.   Sedimentasi
                        Adalah pengendapan material hasil erosi karena kecepatan tenaga media pengangkutannya berkurang/melambat. Karena medianya berbeda-beda, sedimentasi juga menghasilkan bentukan alam yang berbeda pula:
                        Sedimentasi Fluvial adalah proses pengendapan materi-materi yang diangkut air sepanjang aliran sungai. Tempatnya antara lain di dasar sungai, danau, atau muara sungai. Pengendapan di sepanjang aliran air sungai memperlihatkan ciri khas, yaitu makin ke hilir makin kecil ukuran butir batuan yang diendapkan. Di hulu, batuan yang diendapkan berupa batu besar, di tengah batuan lebih kecil, kerikil, dan pasir kasar, dan di hilir pasir halus dan lumpur.
                        Sedimentasi Aeolis adalah proses pengendapan materi-materi yang dibawa atau diangkut angin. Proses ini banyak terjadi di daratan. Sering juga disebut sedimentasi teresterial.
                        Sedimentasi Marine adalah pengendapan materi hasil abrasi di sepanjang pantai.

2.      Aspek Hidrologi (Dasar – dasar Pengukuran Sungai, Sifat Sungai dan Daerah Aliran Sungai)
1.      Pengukuran Sungai

      Pada prinsipnya adalah pengukuran luas penampang basah dan kecepatan aliran. Penampang basah (A) diperoleh dengan pengukuran lebar permukaan air dan pengukuran kedalaman dengan tongkat pengukur atau kabel pengukur. Kecepatan aliran dapat diukur dengan metode-metode current-meter dan metode apung.
      Current meter adalah alat untuk mengukur kecepatan aliran (kecepatan arus). Ada dua tipe current meter yaitu tipe baling-baling (proppeler type) dan tipe canting (cup type). Oleh karena distribusi kecepatan aliran di sungai tidak sama baik arah vertikal maupun horisontal, maka pengukuran kecepatan aliran dengan alat ini tidak cukup pada satu titik. Debit aliran sungai dapat diukur dengan beberapa metode. Tidak semua metode pengukuran debit cocok digunakan. Pemilihan metode tergantung pada kondisi (jenis sungai, tingkat turbulensi aliran) dan tingkat ketelitian yang akan dicapai.


        Pengukuran Debit dengan Cara Apung (Float Area Methode)
        Jenis-jenis pelampung dapat dilihat pada Gambar 30.Prinsip :
·         kecepatan aliran (V) ditetapkan berdasarkan kecepatan pelampung (U)
·         luas penampang (A) ditetapkan berdasarkan pengukuran lebar saluran (L) dan kedalaman saluran (D)
·         debit sungai (Q) = A x V atau A = A x k dimana k adalah konstanta
Q = A x k x U  
Q = debit (m3/det)
U = kecepatan pelampung (m/det)
A = luas penampang basah sungai (m2)
k = koefisien pelampung
Pengukuran Debit dengan Current-meter Prinsip :
  • kecepatan diukur dengan current meter
  • luas penampang basah ditetapkan berdasarkan pengukuran kedalaman air dan lebar permukaan air. Kedalaman dapat diukur dengan mistar pengukur, kabel atau tali.
Pengukuran Debit dengan Metode Kontinyu
            Current meter diturunkan kedalam aliran air dengan kecepatan penurunan yang konstant dari permukaan dan setelah mencapai dasar sungai diangkat lagi ke atas dengan kecepatan yang sama.
            Pengukuran Debit dengan Metode Kontinyu Current meter diturunkan kedalam aliran air dengan kecepatan penurunan yang konstant dari permukaan dan setelah mencapai dasar sungai diangkat lagi ke atas dengan kecepatan yang sama.
            Pada pengukura air pada pantai kura – kura yang kami amati pertama – tama mempersiapkan peralatan yang di gunakan melakukan pengukuran tersebut.


Alat yang di gunakan
·       Stop watch
·       Meteran/mistar ukur
·       Bola Pimpong
Cara pengukuran:
1.      Pilih lokasi pengukuran dengan syarat-syarat:
Ø   Bagian sungai/saluran relative lurus dan cukup panjang
Ø   Penampang sungai kurang lebih seragam
2.      Tentukan dua titik tempat pengamatan jalannya pelampung
3.      Pelampung di lepas dari arah hulu kehilir. Titik pelapasan pelampung tidak boleh di titik 1, tapi harus kea rah hulu beberapa meter dari titik 1, sehingga pada saat pelampung melewati titik 1, sudah setabil. Hidupkan stop watch pada saat pelampung melewati titik 1 dan matikan kalau pelampung sudah sampai pada titik 2, hitung waktu perjalan antara titik 1 sampai titik 2.
4.      Ukur  kedalaman air dan jarak dari tepi air, untuk menghitung luas penampang sungai.
2.      Sifat - sifat Sungai
      Sungai yang ada di pantai kura – kura dari sepanjang perjalan yang kami amati, kami hanya melihat beberapa aliran sungai kecil yang mengalir.
Sifat – sifat air nya, mengalami mengalami drainase yang baik dan mengalir sangat cepat terbukti dengan cuaca sebelum pengamatan mengalami cuaca hujan yang cukup lama dan stabil, tetapi keesokan harinya air tidak mengalami kenaikan.
3.      Daerah Aliran Sungai
      Ada tiga Daerah Aliran Sungai (DAS) utama yang melintasi wilayah Kabupaten Bengkayang, yaitu: DAS Sambas, DAS Sungai Raya, dan DAS Sungai Duri. Dari ketiga DAS tersebut, yang paling besar adalah DAS Sambas yang luasnya meliputi 722.500 hektar sedangkan DAS Sungai Raya sebesar 50.000 hektar dan DAS Sungai Duri hanya sebesar 24.375 hektar.

BAB III
METODOLOGI

A.     ALAT
1.       tonggak kayu atau bambu sepanjang 2 meter,
2.       Global Positioning System (GPS),
3.       Meteran lapangan (50 atau 100 m),
4.        
B.     BAHAN
C.     CARA KERJA

Pengambilan data pengamatan pada penelitian ini dilakukan pada pagi hari pukul 07.00 WIB di pantai Kenjeran Surabaya pada tanggal 27 Maret 2010. Peralatan yang digunakan untuk praktikum pengamatan Topografi pantai antara lain tonggak kayu atau bambu sepanjang 2 meter, Global Positioning System (GPS), Meteran jahit atau meteran kayu, Meteran lapangan (50 atau 100 m), Waterpass, Kompas. Cara kerjanya tonggak bambu sepanjang 2 meter, dipasang sesuai garis lurus dari pantai hingga 40 meter kearah laut. Jarak pemasangnan tonggak bambu yaitu sepanjang 2 meter, sehingga penghitungan kedalam pada pantai mengikuti penempatan tonggak yang dipasang. Meteran jahit berfungsi sebagai pengukur permmukaan laut hingga dasar laut di posisi tonggak bambu berada. Waterpass berfungsi untuk menjaga tali agar selalu dalam keadaan sejajar dan tidak mengikuti kontur pantai. Meteran lapangan berfungsi untuk mengatur jarak antara tonggak bambu tersebut. Dan GPS berfungsi sebagai penentuan titik koordinat wilayah yang akan di amati.
Pengambilan data kontur pantai dimulai pada tonggak ke-0 yang diletakkan pada titik pasang tertinggi sejajar dengan daratan dan ditandai dengan tali rafia yang ditarik lurus ke laut hingga tonggak terakhir dan tidak mengikuti kontur pantai. Pengukuran kontur pantai dimulai pada tali yang yang diikat pada tonggak-0 yang diikuti pada tepat permukaan tanah hingga menyentuh dasar laut, kemudian catat tinggi tiap tali pada tonggak hingga dasar pantai. dan menententukan tipe pantai tersebut. Berikut model gambar pengamatan kontur pantai