BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
1.
Posisi
Geografis dan Astronomis
1. Letak
Koordinat : 00°49’04.0°,
LU. 108°50’37,9” BT
2. Suhu
udara : 27° C
3. Suhu
tanah : 29° C
4. Keasaman
tanah (pH) : 6,9
Untuk mencapai lokasi wilayah itu, dari Pontianak
harus menempuh sekitar 110 km selama 3 jam untuk sampai ke tanjung gundul. Bila
dari singkawang perjalanan ketanjung gundul bisa mencapai 20 menit karena
jaraknya 15 km setelah sampai keareal tanjung gundul, kita harus meneruskan
perjalanan sekitar 3 km untuk mencapai pantai kura – kura yang berada di balik
bukit kecil di bibir pantai.
2.
Batas
Wilayah
1. Nama
tempat : Pantai kura –
kura
2.Letak
Administrasi : Desa Tanjung Gondol Kecamatan
Sungai Raya Kabupaten
Bengkayang.
Kecamatan Sungai Raya sebelah Utara
berbatasan dengan Sedau dan untuk sebelah Selatan berbatasan dengan Pakmakmur.
Sebelah Timur berbatasan dengan Menteradok dan Paritmas sedangkan Sebelah Barat
berbatasan dengan Laut Natuna.
Kabupaten Bengkayang sebelah Utara
berbatasan langsung dengan negara Malaysia atau tepatnya berbatasan dengan
Serawak-Malaysia Timur. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Pontianak.
Sebelah Timur berbatasab dengan Kabupaten Landak dan kabupaten Sanggau. Sebelah
Barat berbatasan dengan kota Singkawang, Kabupaten Sambas, dan laut Natuna.
3.
Nilai
Ekonomis Wilayah
Bengkayang
memiliki tanah yang subur dengan kontur yang beragam, sektor pertanian memegang peranan penting dalam perekonomian
daerah ini. Apalagi dengan relief yang beragam, dari pegunungan hingga daerah
pesisir pantai, menjadikan Bengkayang kaya akan keanekaragaman sumber daya
alam. Pembangunan di wilayah ini masih tertinggal, namun dengan adanya semangat
otonomi daerah diharapkan dapat memacu pembangunan Bengkayang menjadi lebih
maju di segala bidang. Salah satu hasilnya adalah berhasilnya pembangunan
gedung Kantor Bupati satu atap, dimana dalam satu gedung tersebut terpusat
seluruh badan dan dinas yang ada di lingkungan pemerintahan daerah. Hal ini
bertujuan untuk meningkatkan pelayanan terhadap publik. Selain itu proyek
pengadaan air bersih juga telah selesai direvitalisasi.
Di daerah sekitar
pantai, kebanyakan masyarakat sektor perekonomiannya pada bidang nelayan, lautnya kaya akan
keanekaragaman laut yang cukup menghasilkan. Dan tempatnya juga sangat
bgus untuk dijadikan objek wisata.
B.
Analisis
Masalah
Analisis masalah dalam laporan praktikum
ini adalah:
1. Permasalahan
dari peraktikum ini adalah bagaimana mengetahui dan memahami terminology
topografi pantai.
2. mampu melaksanakan metode standart analisis
topografi pantai,.
3. bagaimana
factor-faktor fisika.
4. geologi-oseanografi yang berpengaruh terhadap
pembentukan topografi pantai.
C.
Pembagian
Tugas
1. Silpanus
Desember : Membuat cover dan
mencari materi latar belakang .
2. Herman
Fernando : Mencari bahan II
tentang Aspek hidrologi, bab III tentang kondisi hidrologi dan membuat
kesimpulan dan saran
3. Beri
Gunawan : Mengerjakan
dari mulai menyusaun kerangka, memasukan materi dari bab I samapi bab IV,
mencari materi bab II tentang klasifikasi bentang alam dan aspek geologi, bab
III kondisi pantai kura – kura dan kondisi geomorfologi pantai kura – kura.
4. Kristina : Membuat kata pengantar, mencari
materi bab II tentang aspek geomorfologi.
D.
Tujuan
Praktek
ini bertujuan untuk memahami tentang profil pantai suatu wilayah pesisir di
kawasan bengkayang pantai kura-kura, serta memahami terminologi topografi
pantai, mengetahui dan mampu melaksanakan metode standar analisis topografi
pantai, mengetahui dan mampu menjelaskan faktor-faktor fisika,
geologi-oseanografi yang berpengaruh terhadap pembentukan topografi pantai.
Tepatnya di pantai kenjeran.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Klafikasi Tentang Bentang Alam
Pada dasarnya, bentuk-bentuk muka bumi itu terbagi
menjadi beberapa proses yaitu:
1. Diastrofisme
Adalah
proses pergerakan lempeng mukabumi yang satu terhadap yanglainnya,
mengakibatkan adanya berbagai bentuk di permukaan bumi.
Bentuk- bentuk
tersebut adalah:
A.
Sesar Biasanya terjadi pada batuan beku atau
batuan lainnya seperti batuanmetamorfosa. Bagian patahan yang rendah disebut
palung (graben).Bagian yang terangkat istilahnya horst.
http://geoce-ria.netau.net/GMBR/Gambar%202.jpg
B.
SesarKekar Kekar
adalah retakan pada batuan yang dibentuk oleh tekanan yangdihasilkan oleh
kejadian-kejadian tektonik, pendinginan, atau pantulanisostasi. Panjangnya
bervariasi mulai dari milimeter hingga kilometer.Padasingkapan batuan kekar dapat berupa retakankecil seukuran rambutyang
panjangnya hanya beberapa millimeter atau rekahan terbukasepanjang satu meter
atau lebih. Kekar dapat terisi atau bisa juga tidak terisi, bila terisi
biasanya diisi oleh tanah atau tanah liat. Merekadibedakan dari sesar
melaluisedikitnya pergerakan antara dua sisi kekar.
2. Lipatan – lipatan
Lipatan Lipatan
adalah struktur yang tadinya datar namun telah dibengkokkan olehgaya-gaya
horizontal dan vertikal pada kerak bumi. Lipatan dapat dihasilkan dari berbagai
proses:kompresi kerak bumi,pengangkatan balok di bawah selimut yang terdiri dari batuan sedimen
sehingga selimuttersebut tersampir di atas balok yang terangkat, dan
luncuran gravitasional serta pelipatan di mana batuan berlapis meluncur ke
bawah sisi-sisi balok yang terangkat lalu remuk.
Bentang alam
lipatan adalah:
1)
Antiklin
2)
Sinklin
3)
Monoklin
4)
Asymmetric fold
5)
Recumbent fold
Gambar2Sumber: Encyclopedia of Geomorphology Penampang melintang bentang alam lipatan
3. Agradasi
Agradasi, ataupengendapan yang dilakukan oleh
agen-agen pengerosiseperti angin, air, dan es.Oleh karena di wilayah Indonesia
agradasiaktif dilakukan oleh air dan khususnyadi wilayah Nabire, tidak
terjadi agradasi selain yang dilakukan air, maka hanya akan dipaparkan
mengenai agradasiyang dilakukan oleh air.Agradasi oleh air terjadi apabila daya
angkutnya menurun. Penurunan daya angkut air diakibatkan oleh menurunnya volume
air atau menurunnyagradien lereng. Endapan pada belokan dalam sungai-Sungai
selalu mengikis tepi luar belokannya sedangkan tepi dalam belokanmengalami pengendapan.Karenanya, tepi dalam
belokan makin lamamakin dangkal dan tanahnya meluas sementara tepi luar
belokan sungaitergusur oleh air.Tanah yang mengendap itu bukan berasal dari
pengikisanyang terjadi di seberang.
Bentang alam
yang ada di pantai kura – kura, Pantai kura-kura yaitu sebuah pantai yang terletak di
kabupaten bengkayang, yang berbatasan langsung dengan kota singkawang pantai ini terdapat di daerah tanjung gundul, mengapa disebut tanjung gundul?
Karena dulunya tanjunng ini dipenuhi dengan pepohonan akan tetapi yang tersisa saat ini hanyalah sebuah
tanjung tanpa pepohonan yang menghiasinya, kalau dapun itu hanyalah rerumputan
dan semak saja. Pantai kura-kura juga
dekat dengan tempat pelatihan militer Secata B waktu tempuh yang diperlukan
untuk mencapai lokasi wisata ini ± 45 menit perjalanan dari kota singkawang.
Mungkin tak banyak orang yang mengetahui
lokasi wisata ini, hal ini terjadi karena sedikit informasi tentang lokasi
wisata ini dan juga akses menuju lokasi wisata ini yang belum diakomodir dengan
baik, dimana banyak terdapat jalan yang berlubag dan digenangi air serta
kurangnya fasilitas di lokasi wisata ini, fasilitas yang tersedia yang tersedia
di lokasi wisata ini hanya sebatas fasilitas standar untuk sebuah lokasi
wisata. Seperti saung untuk bersantai, warung makan, toilet, dan beberapa vila
yang merupakan milik dari sebuah PT (perseroan terbatas) di tempat ini juga
terdapat sebuah tempat pembudidayaan udang yang dikelola oleh pihak yang
kompeten dibidangnya.
Pemandangan lokasi wisata ini cukup
indah, dimana
pantai ini masih cukup asri ditambah
dengan adanya pepohonan pinus yang ditanam oleh pengelola di sepanjang tepian
pantai semakin menambah keindahan pantai ini, Untuk mencapai
lokasi wisata itu, dari Pontianak harus menempuh jalan sekitar 110 km selama 3
jam untuk sampai ke Tanjung Gundul. Bila dari Singkawang perjalanan ke Tanjung
Gundul bisa mencapai 20 menit karena jaraknya sekitar 15 km. Setelah sampai ke
areal Tanjung Gundul, kita harus meneruskan perjalan sekitar 3 km untuk dapat
mencapai pantai Kura Kura yang berada di balik bukit kecil di bibir pantai.
A.
Aspek
Geologi
Kondisi Geologi Daerah pantai
Beserta Pembentukannya
Kondisi geologi daerah pantai
kura – kura sebuah
bukit yang ada di pantai ini, dari bukit ini kita dapat melihat pemandangan
yang lebih indah dimana pantai akan terlihat sangat berbeda di dekat
bebatuannya, jika cuaca sedang bagus, kita bisa melihat
sebuah pulau yang terdapat di seberang pantai, dan pada sore harinya kita dapat
melihat sunset pula.
Mempertahankan
kondisi alam yang asli bisa menjadi konsep pengembangan objek wisata di Kalbar.
Pantai Kura Kura dikelola memperhatikan konsep tersebut. Lingkungan pantai
dipertahankan keasriannya sehingga turis asing pun tertarik menikmati keindahan
alam.
Indonesia
bagian barat seperti Kalimantan, Sumatera dan Jawa Barat serta Jawa Tengah
tersusun oleh kerak benua, demikian pula dasar lautan di antara pulau-pulau ini
yang dangkal. Di bawah kerak bumi adalah zona yang batuannya lebih panas dan
bersifat lebih plastis. Lempeng benua dan lempeng samudera mengapung di atas
bahan cair di bawahnya.
Di Kalimantan terdapat empat unit
geologi utama, yaitu batuan yang dihubungkan dengan pinggir lempeng, batuan
dasar, batuan muda yang mengeras dan tidak mengeras, dan batuan aluvial serta
endapan muda yang dangkal.
Pantai kura - kura merupakan bagian laut cina selatan,
pulau Kalimantan, sumatera dan jawa merupakan satu daratan kesatuan, pada akhir
jaman pleistosen karena perubahan iklim atau suatu bencana yang sangat besar, sehingga
menyebabkan es mencair setebal 150 m – 200 m, akibatnya tempat – tempat yang
rendah bagian utara jawa, barat kalimantan, dan timur sumatera itu terisi oleh
air yang kemudian saat ini kita kenal dengan sebutan laut cina selatan.
Proses Pembentukan Pantai
1.
Material Batuan
Batuan mencakup material
yang membentuk litosfir atau kerak bumi, terdiri dari mineral-mineral pembentuk
bantuan. Mempelajari batuan merupakan pengetahuan dasar untuk mempelajari
geologi. Dengan mempelajari batuan dapat kita ketahui
sifat dan sejarah bumi kita. Kita jumpai disekeliling kita berbagai macam
batuan. Dilihat dari sifat fisiknya mereka sangat beragam, baik warna,
kekerasan, kekompakkan, maupun material pembentuknya.
Berdasarkan
proses kejadiannya batuan dibagi menjadi tiga jenis antara lain:
a.
Batuan beku
Batuan
beku adalah batuan yang terjadi dari pembekuan larutan silika cair dan pijar,
yang dikenal dengan nama magma. Ciri-cirinya mempunyai berat jenis yang tinggi,
pejal, dan hampir tidak memiliki rongga. Mineral yang terkandung di dalamnya dalah
oksigen (O2), Alumunium (Al), Kalsium
(Ca), Natrium (Na), Kalium (K), Besi (Fe), dan Magnesium (Mg). Dari mineral
yang terkandung di dalamnya batuan beku secara umum dapat dibedakan menjadi dua
yaitu magma basa dan magma asam.
b.
Batuan Sedimen
Batuan
sedimen pada umumnya berupa butiran-butiran tersendiri mulai dari sangat halus
hingga sangat kasar, memiliki berat jenis rendah dibandingkan batuan beku,
memiliki rongga dan pori-pori. Batuan sediment terbentuk karena proses
sedimentasi dari bahn-bahan rombakan yang dibawa oleh media air ataupun angin
yang diendapkan/disedimentasikan di suatu tempat yang disebut cekungan muka.
Material tersebut dibagi atas dua macam yaitu bahan organic dan non-organik.,
Berdasarkan susunan dan cara pembentukannya (sukar untuk dipisahkan), batuan
sediment dibagi lagi menjadi:
1.
Sedimen silika klastik,
misalnya batu pasir (kuarsa) biasa, lempung, wake abu-abu (gay woce), dan
sebagainya.
2.
Batuan karbonat, misalnya
batu kapur (karts) dari berbagai sifat: kapur karang, batuan kalsiklastik
(terdiri dari pasir kapur), napal, dolomit dan sebagainya.
3.
Evaporit, yaitu batuan
hasil penguapan: garam batu, anhidrit, gips, garam kali, dan sebagainya.
4.
Sedimen organik, misalnya
dari zat-zat hidup, gambut, arang coklat, arang batu, minyak bumi, aspal.
5.
Sedimen piroklastik atau
sediment vulkanik misalnya debu vulkanik, tuf, dan sebagainya
6.
Sedimen lainnya, misalnya
fosforit dan sebagainya
Penamaan batuan
sedimen biasanya berdasarkan besar butir penyusun batuan tersebut Penamaan
tersebut adalah: breksi, konglomerat, batu pasir, batu lempung:
a. Breksi adalah
batuan sedimen dengan ukuran butir lebih besar dari 2 mm dengan bentuk butiran
yang bersudut
b. Konglomerat
adalah batuan sedimen dengan ukuran butir lebih besar dari 2 mm
dengan bentuk butiran yang membudar
c. Batu pasir
adalah batuan sedimen dengan ukuran butir antara 2 mm sampai 1/16 mm
d. Batu lanau
adalah batuan sedimen dengan ukuran butir antara 1/16 mm sampai 1/256 mm
e. Batu lempung
adalah batuan sedimen dengan ukuran butir lebih kecil dari 1/256 mm ]
c.
Batuan Metamorf
Batuan metamorf terbentuk
dari proses metamorfisme yaitu perubahan mineral ke mineral lainnya tanpa
mengalami fase cair akibat tekanan dan suhu yang sangat tinggi. Ciri-cirinya
yaitu mempunyai mineral yang pipih, berlembar pejal dan bergantung pada batuan
asalnya.. Berdasarkan cara pembentukkannya, kita dapat mengenal tipe-tipe
metamorfosisnya yaitu;
1. Metamorfosis
kontak, yang terjadi pada kontak sebuah intrusi magma,
2. Metamorfosis dinamo, yang terjadi pada
deformasi lokal yang intensif, dimulai dengan breksi patahan, kemudian melonit.
3. Metamorfosis
regional, yang terjadi pada daerah-daerah yang lebih luas dibandingkan tipe
sebelumnya dan berkaitan erat dengan orogenesis dan deformasi.
Beberapa mineral utama pembentuk batuan
metamorf yang umum kita jumpai adalah kwarsa, feldspar, ampibol, piroksen,
mika, garnet, dan chlorit.Mineral-mineral tertentu terbentuk tergantung dari
tekanan dan temperature ketika berlangsungnya metamorfosis. Adapun contoh
batuan metamorf antara lain: sabak, phylit, skis, gnesis, migmatit, batuan horn.
2.
Patahan
pada Masa Batuan
Pada
umumnya sebuah patahan akan terjadi bila gaya geser maksimum telah
dilampaui. Adapun
bentuk-bentuk patahan sebagai berikut:
a)
Patahan yang bergeser turun
(”normal fault”): bidang patahan melereng ke sisi bongkah yang turun; dibarengi
dengan pemanjangan, seringkali berkaitan dengan renggangan di kedalaman.
b)
Geseran ke atas (“reverse
fault”) bidang patahan melereng ke sissi bongkah yang naik; lapisan-lapisan
bergeser satu di atas lainnya; penggandaan, biasanya disebabkan oleh tekanan
lateral.
c)
Geseran saling
melintas (“over thrust”) pada umumnya sama dengan geseran ke atas,
biasanya kemiringannya lebih kecil dan jumlah geserannya lebih besar. Seringkali berkaitan
dengan penglipatan.
d)
Patahan transversal (“trans
current fault”, wrench fault”) adakalanya, tetapi bukan merupakan suatu
ketentuan, bidang patahan berdiri vertikal. Bongkah-bongkah saling geser secara horizontal
dan transversal.
e) Fleksur:
pembengkokan lapisan-lapisan di sela-sela bongkah yang naik dan bongkah yang
turun, seringkali beralih menjadi patahan.
3.
Pelapukan
Kehidupan
sehari-hari memperlihatkan bahwa di bumi ini tidak ada material yang bersifat
abadi. Segala sesuatu akan berubah, baik secara fisik maupun secara kimia.
Terutama yang berada di lingkungan atmosfer. Perubahan ini berlangsung untuk
mencapai keseimbangan alamiah. Di alam, proses inipun berlangsung tanpa kita
sadari. Di dalam geologi pengubahan alam ini dinamakan proses pelapukan atau weathering yang berarti cuaca. Jadi
pelapukan diartikan sebagai perubahan akibat cuaca. Hasil proses pelapukan ini
berupa pecahan-pecahan batuan lepas yang menutupi permukaan bumi secara tidak
teratur dinamakan regolith.
Proses
pelapukan inilah salah satu proses yang mengubah permukaan bumi setiap saat
meskipun perubahannya tidak tampak dengan segera karena faktor waktu sangat
berpengaruh dalam proses ini.
a.
Pelapukan Mekanik
(mechanical weathering)
Pelapukan secara fisika
umumnya disebut pelapukan fisika (physical weathering) atau pelapukan mekanik. Pada
proses pelapukan ini hanya berlangsung perubahan fisik saja, secara mekanik
tidak disertai perubahan kimia. Sehingga komposisi kimianya tetap, yang berubah
hanya sifat fisiknya saja. Dari yang semula mempunyai bentuk dan volume besar
serta massif, hancur menjadi bentuk lebih kecil. Pelapukan fisik atau pelapukan
mekanis dapat terjadi oleh:
1) Udara
yang membeku, dimana pengembangan 9% dari dalam retakan yang sangat kecil dapat
mengakibatkan penghancuran
2) Insolasi
dan perubahan temperatur, yang akan menyebabkan antara lain eksfoliasi oleh
penyusutan dan pengembangan
3) Akar
tumbuhan, cacing dan binatang-binatang lain, kerak lumut, yang dapat
meningkatkan kemunculan dan pembesaran retakan-retakan yang sangat kecil.
b.
Pelapukan
Kimiawi
Mineral-mineral
dalam batuan beku dan metamorf terbentuk pada kondisi suhu dan tekanan tinggi.
Bila sampai di permukaan bumi, baik suhu maupun tekanannya jauh lebih rendah
dari kondisi saat pembentukan. Untuk
mencapai keseimbangan, mineral-mineral tersebut terurai dan
komponen-komponennya membentuk mineral baru yang lebih stabil. Dalam pelapukan
kimia terjadi perubahan komposisi kimia mineral yang terlapukkan, sehingga
dapat dikatakan proses dekomposisi.
Faktor-faktor
utama yang dapat menyebabkan terjadinya pelapukan kimiawi adalah air hujan dan
air tanah.
1) Air
hujan dapat mencemari mineral-mineral batuan: dan yang dilarutkan dengan
berbagai jenis asam lain, yang berasal dari lumut. Selain itu, dapat dipisahkan
menjadi dan; pH = 7 sampai 4. Kadar asam terutama ditentukan oleh + = +.
Perubahan kimiawi yang dapat terjadi adalah: pelarutan, oksidasi, hidrasi,
pembentukan karbonat.
a. Pelarutan
: sebagian besar silikat akan melarut pada pH yang cukup rendah, dalam hal mana
residu yang tidak dapat larut akan tertinggal ( misalnya mineral lempung). Kohesi batuan akan
berkurang.
b. Pembentukan
karbonat: akibat adanya akan terbentuk sejumlah besar bikarbonat, antara
lain juga akibat adanya dan tentu saja juga yang
akan hilang dalam larutan. Bahkan batu kapur akan larut seluruhnya sebagai,
sedangkan di tempat lain dapat memberikan jatuhan (sinter kapur, stalaktit).
c. Oksidasi
: senyawa besi yang dapat larut akan beroksidasi menjadi hidroksid besi yang
tidak dapat larut, misalnya limonit.
Oksidasi dapat mengakibatkan lapukan menjadi berwarna coklat – karat, merah
tanah, dan sebagainya.
d. Hidrasi
atau hidrolisis : mineral-mineral asal menjadi lepas karena menyerap air
(seringkali pada pada kadar rendah). Contohnya feldspar berubah menjadi mineral
lempung. Mineral-mineral lempung ini merupakan bagian kecil dari koloid yang
berkristalisasi lebih lanjut. Piroksen dan amfibol menghasilkan mineral klorit
dan karbonat dan yang dapat larut.
2) Air
tanah akan naik secara kapiler dalam hawa gurun pasir dan kemudian menguap,
serta meninggalkan berbagai garam, antara lain garam yang agresif (soda).
Sementara garam hygroskopis akan memuai oleh embun di malam hari sehingga dapat
memecahkan batuan. Proses ini berlangsung lebih efektif bila dibandingkan dengan
insolasi.
c.
Pelapukan Biologi
Pelapukan biologi yaitu pelapukan
yang terjadi akibat adanya aktivitas makhluk hidup. Faktor – faktor yang
menyebabkan terjadinya pelapukan biologi yaitu:
a) Adanya
akar-akar tanaman yang masuk ke retakan.
b) Adanya binatang
seperti serangga yang masuk ke tanah dapat mendorong fragmen-fragmen batuan ke
atas.
Ciri-ciri terdapatnya pelapukan:
1. Adanya retakan.
2. Terjadi perubahan warna.
3. Terdapat peleburan retakan.
4.
Bukaan
pada Bidang Patahan (Aperture)
Aperture
adalah bukaan yang terdapat pada massa batuan yang merupakan salah satu
karakteristik bidang ketidakselarasan (discontinuity) yang mengindikasikan
besarnya intensitas pelapukan(priest,1993). Bukaan yang terdapat pada lereng
batuan memiliki ukuran yang berbeda-beda yang bergantung pada derajat
pelapukannya.Batuan yang terdapat pada dinding tersebut memiliki ukuran yang
berbeda-beda tergantung pada derajat pelapukan dari batuan itu sendiri.
Aperture dapat diukur dengan menggunakan
jangka sorong. Dimana semakin besar bukaan pada dinding discontinuity maka
pelapukan semakin tinggi. Data-data dari hasil pengukuran aperture disusun
secara teratur mulai dari nilai terkecil hingga nilai terbesar.
5.
Kekasaran
Bidang Permukaan (Roughness)
Tingkat kekasaran bidang
merupakan parameter yang menggambarkan beberapa
jauh tingkat alterasi pada bidang ketidakselarasan(Priest, 1993). Analisa yang dilakukan adalah analisa secara
visual, yaitu sampel yang telah terpisah,
bidang permukaannya diplotkan sebagai dua dimensi yang kemudian dikolerasikan dengan parameter
6.
Material
Pengisi (Filling)
Beberapa
material pengisi pada bukaan bidang ketidakselarasan mengindikasikan adanya
pengaruh pelapukan pada massa batuan. Diantara material filling yang dihasilkan
oleh adanya proses pelapukan pada bukaan adalah tanah. Tanah terbentuk melalui
proses kimia yang terjadi antara air yang mengandung asam atau basa
dengan unsur kimia penyusun material batuan.
B.
Aspek
Geomorfologi (unit – unit medan yang di amati baik dari dalam maupun dari luar)
1.
Morfologi
Pantai
Secara
sederhana, pantai dapat diklasifikasikan berdasarkan material penyusunnya, yaitu menjadi:
1)
Pantai Batu (rocky shore),
yaitu pantai yang tersusun oleh batuan induk yang keras seperti batuan beku
atau sedimen yang keras.
2)
Beach, yaitu pantai yang
tersusun oleh material lepas. Pantai tipe ini dapat dibedakan menjadi:
a)
Sandy beach (pantai pasir),
yaitu bila pantai tersusun oleh endapan pasir.
b)
Gravely beach (pantai gravel, pantai berbatu),
yaitu bila pantai tersusun oleh gravel atau batuan lepas. Seperti pantai
kerakal.
1)
Pantai bervegetasi, yaitu pantai yang
ditumbuhi oleh vegetasi pantai. Di daerah tropis, vegetasi pantai yang
dijumpai tumbuh di sepanjang garis pantai adalah mangrove, sehingga dapat
disebut Pantai Mangrove.
Maka pantai dapat dibedakan menjadi:
1)
Pantai hasil proses erosi, yaitu
pantai yang terbentuk terutama melalui proses erosi yang bekerja di pantai.
Termasuk dalam kategori ini adalah pantai batu (rocky shore).
2)
Pantai hasil proses sedimentasi,
yaitu pantai yang terbentuk terutama kerena prose sedimentasi yang bekerja di
pantai. Termasuk kategori ini adalah beach. Baik sandy beach maupun gravely
beach.
3)
Pantai hasil aktifitas organisme,
yaitu pantai yang terbentuk karena aktifitas organisme tumbuhan yang tumbuh di
pantai. Termasuk kategori ini adalah pantai mangrove.
2.
Geomorfologi Perbukitan
a.
Pelapukan
Adalah proses
perusakan dan penghancuran massa batuan yang disebabkan oleh pengaruh-pengaruh
cuaca, angin, dan organisme. Berdasarkan proses terjadinya, pelapukan dibagi
tiga:
1) Pelapukan
Mekanik adalah proses penghancuran batuan menjadi bagian-bagian yang lebih
kecil tanpa mengubah susunan kimia batuan. Faktor-faktor yang menyebabkan
terjadinya pelapukan mekanik antara lain: Perbedaan suhu yang sangat besar
antara siang dan malam. Kondisi ini umumnya terjadi di gurun. Suhu di siang
hari umumnya sangat panas, malam hari sangat dingin. Menyebabkan batuan memuai
dan mengerut sangat tidak beraturan dan cepat sehingga batuan pecah.
2) Pembekuan
air dalam celah-celah batuan. Air dalam keadaan cair akan meningkat volumenya
ketika dalam bentuk es. Maka, air yang membeku dalam celah batuan dapat menekan
batuan sehingga pecah.
3) Mengkristalnya
air garam.
Pelapukan
kimiawi adalah proses penghancuran massa batuan disertai perubahan struktur
kimia batuan. Umumnya terjadi karena pelarutan. Air hujan mengandung CO2 dan
asam amoniak sangat besar daya larutnya. Selain itu, suhu udara tinggi dan
curah hujan yang besar dapat mempercepat proses pelapukannya. Pelapukan ini
umum ditemukan di daerah kapur.
b.
Erosi
Erosi
atau pengikisan adalah proses pelepasan partikel batuan secara alamiah oleh
tenaga pengangkut yang ada di permukaan bumi, antara lain angin dan air. Erosi
menurut penyebabnya dapat dibagi atas empat macam:
1) Erosi
Aliran Permukaan terjadi apabila intensitas dan lamanya hujan melebihi
kapasitas infiltrasi.
2) Erosi
Angin disebabkan oleh angin, yang disebut juga deflasi atau ablasi. Erosi ini
banyak terjadi di daerah gurun.
c.
Mass Wasting
Mass
Wasting adalah perpindahan massa batuan/tanah akibat pengaruh gaya berat.
Prosesnya mirip dengan terjadinya erosi. Bentuk-bentuk mass wasting antara lain
sebagai berikut:
1) Tanah
longsor (land slide)
2) Tanah
amblas atau ambruk (subsidence)
3) Tanah
nendat (slumping), yaitu proses longsoran tanah yang gerakannya terputus-putus,
sehingga memperlihatkan bentuk mirip teras.
4) Tanah
mengalir (earth flow), yaitu gerakan tanah yang jenuh air pada lereng-lereng
landai.
5) Lumpur
mengalir (mud flow), yaitu sejenis tanah mengalir dengan kadar air tinggi.
6) Rayapan
tanah (soil creep), yaitu gerakan tanah yang sangat lambat pada lereng landai.
d.
Sedimentasi
Adalah pengendapan
material hasil erosi karena kecepatan tenaga media pengangkutannya
berkurang/melambat. Karena medianya berbeda-beda, sedimentasi juga menghasilkan
bentukan alam yang berbeda pula:
Sedimentasi Fluvial
adalah proses pengendapan materi-materi yang diangkut air sepanjang aliran
sungai. Tempatnya antara lain di dasar sungai, danau, atau muara sungai.
Pengendapan di sepanjang aliran air sungai memperlihatkan ciri khas, yaitu
makin ke hilir makin kecil ukuran butir batuan yang diendapkan. Di hulu, batuan
yang diendapkan berupa batu besar, di tengah batuan lebih kecil, kerikil, dan
pasir kasar, dan di hilir pasir halus dan lumpur.
Sedimentasi Aeolis
adalah proses pengendapan materi-materi yang dibawa atau diangkut angin. Proses
ini banyak terjadi di daratan. Sering juga disebut sedimentasi teresterial.
Sedimentasi Marine
adalah pengendapan materi hasil abrasi di sepanjang pantai.
2.
Aspek
Hidrologi (Dasar – dasar Pengukuran Sungai, Sifat Sungai dan Daerah Aliran
Sungai)
1.
Pengukuran Sungai
Pada
prinsipnya adalah pengukuran luas penampang basah dan kecepatan aliran.
Penampang basah (A) diperoleh dengan pengukuran lebar permukaan air dan
pengukuran kedalaman dengan tongkat pengukur atau kabel pengukur. Kecepatan
aliran dapat diukur dengan metode-metode current-meter dan metode apung.
Current meter adalah alat untuk mengukur kecepatan aliran
(kecepatan arus). Ada dua tipe current meter yaitu tipe baling-baling
(proppeler type) dan tipe canting (cup type). Oleh karena distribusi kecepatan
aliran di sungai tidak sama baik arah vertikal maupun horisontal, maka
pengukuran kecepatan aliran dengan alat ini tidak cukup pada satu titik. Debit
aliran sungai dapat diukur dengan beberapa metode. Tidak semua metode
pengukuran debit cocok digunakan. Pemilihan metode tergantung pada kondisi
(jenis sungai, tingkat turbulensi aliran) dan tingkat ketelitian yang akan
dicapai.
Pengukuran Debit dengan Cara Apung
(Float Area Methode)
Jenis-jenis
pelampung dapat dilihat pada Gambar 30.Prinsip :
·
kecepatan aliran (V) ditetapkan berdasarkan
kecepatan pelampung (U)
·
luas penampang (A) ditetapkan berdasarkan
pengukuran lebar saluran (L) dan kedalaman saluran (D)
·
debit sungai (Q) = A x V atau A = A x k
dimana k adalah konstanta
Q = A x k x U
Q = debit (m3/det)
U = kecepatan pelampung (m/det)
A = luas penampang basah sungai (m2)
k = koefisien pelampung
Pengukuran
Debit dengan Current-meter Prinsip :
- kecepatan diukur dengan current meter
- luas penampang basah ditetapkan berdasarkan pengukuran kedalaman air dan lebar permukaan air. Kedalaman dapat diukur dengan mistar pengukur, kabel atau tali.
Pengukuran Debit dengan
Metode Kontinyu
Current meter diturunkan kedalam
aliran air dengan kecepatan penurunan yang konstant dari permukaan dan setelah
mencapai dasar sungai diangkat lagi ke atas dengan kecepatan yang sama.
Pengukuran Debit dengan Metode
Kontinyu Current meter diturunkan kedalam aliran air dengan kecepatan penurunan
yang konstant dari permukaan dan setelah mencapai dasar sungai diangkat lagi ke
atas dengan kecepatan yang sama.
Pada pengukura air pada pantai kura
– kura yang kami amati pertama – tama mempersiapkan peralatan yang di gunakan
melakukan pengukuran tersebut.
Alat
yang di gunakan
· Stop
watch
· Meteran/mistar
ukur
· Bola
Pimpong
Cara
pengukuran:
1. Pilih
lokasi pengukuran dengan syarat-syarat:
Ø Bagian
sungai/saluran relative lurus dan cukup panjang
Ø Penampang
sungai kurang lebih seragam
2. Tentukan
dua titik tempat pengamatan jalannya pelampung
3. Pelampung
di lepas dari arah hulu kehilir. Titik pelapasan pelampung tidak boleh di titik
1, tapi harus kea rah hulu beberapa meter dari titik 1, sehingga pada saat
pelampung melewati titik 1, sudah setabil. Hidupkan stop watch pada saat
pelampung melewati titik 1 dan matikan kalau pelampung sudah sampai pada titik
2, hitung waktu perjalan antara titik 1 sampai titik 2.
4. Ukur kedalaman air dan jarak dari tepi air, untuk
menghitung luas penampang sungai.
2.
Sifat - sifat Sungai
Sungai
yang ada di pantai kura – kura dari sepanjang perjalan yang kami amati, kami
hanya melihat beberapa aliran sungai kecil yang mengalir.
Sifat – sifat air nya, mengalami mengalami
drainase yang baik dan mengalir sangat cepat terbukti dengan cuaca sebelum
pengamatan mengalami cuaca hujan yang cukup lama dan stabil, tetapi keesokan
harinya air tidak mengalami kenaikan.
3.
Daerah
Aliran Sungai
Ada tiga Daerah Aliran Sungai (DAS)
utama yang melintasi wilayah Kabupaten Bengkayang, yaitu: DAS Sambas, DAS
Sungai Raya, dan DAS Sungai Duri. Dari ketiga DAS tersebut, yang paling besar
adalah DAS Sambas yang luasnya meliputi 722.500 hektar sedangkan DAS Sungai
Raya sebesar 50.000 hektar dan DAS Sungai Duri hanya sebesar 24.375 hektar.
BAB III
METODOLOGI
A.
ALAT
1. tonggak
kayu atau bambu sepanjang 2 meter,
2. Global
Positioning System (GPS),
3. Meteran
lapangan (50 atau 100 m),
4.
B.
BAHAN
C.
CARA KERJA
Pengambilan data pengamatan pada
penelitian ini dilakukan pada pagi hari pukul 07.00 WIB di pantai Kenjeran
Surabaya pada tanggal 27 Maret 2010. Peralatan yang digunakan untuk praktikum
pengamatan Topografi pantai antara lain tonggak kayu atau bambu sepanjang 2
meter, Global Positioning System (GPS), Meteran jahit atau meteran kayu,
Meteran lapangan (50 atau 100 m), Waterpass, Kompas. Cara kerjanya tonggak
bambu sepanjang 2 meter, dipasang sesuai garis lurus dari pantai hingga 40
meter kearah laut. Jarak pemasangnan tonggak bambu yaitu sepanjang 2 meter,
sehingga penghitungan kedalam pada pantai mengikuti penempatan tonggak yang
dipasang. Meteran jahit berfungsi sebagai pengukur permmukaan laut hingga dasar
laut di posisi tonggak bambu berada. Waterpass berfungsi untuk menjaga tali
agar selalu dalam keadaan sejajar dan tidak mengikuti kontur pantai. Meteran
lapangan berfungsi untuk mengatur jarak antara tonggak bambu tersebut. Dan GPS
berfungsi sebagai penentuan titik koordinat wilayah yang akan di amati.
Pengambilan data kontur pantai dimulai pada tonggak ke-0 yang diletakkan pada titik pasang tertinggi sejajar dengan daratan dan ditandai dengan tali rafia yang ditarik lurus ke laut hingga tonggak terakhir dan tidak mengikuti kontur pantai. Pengukuran kontur pantai dimulai pada tali yang yang diikat pada tonggak-0 yang diikuti pada tepat permukaan tanah hingga menyentuh dasar laut, kemudian catat tinggi tiap tali pada tonggak hingga dasar pantai. dan menententukan tipe pantai tersebut. Berikut model gambar pengamatan kontur pantai
Pengambilan data kontur pantai dimulai pada tonggak ke-0 yang diletakkan pada titik pasang tertinggi sejajar dengan daratan dan ditandai dengan tali rafia yang ditarik lurus ke laut hingga tonggak terakhir dan tidak mengikuti kontur pantai. Pengukuran kontur pantai dimulai pada tali yang yang diikat pada tonggak-0 yang diikuti pada tepat permukaan tanah hingga menyentuh dasar laut, kemudian catat tinggi tiap tali pada tonggak hingga dasar pantai. dan menententukan tipe pantai tersebut. Berikut model gambar pengamatan kontur pantai
Tidak ada komentar:
Posting Komentar